“Kenapa Ga Ada yang Paham Aku?”: Empati sebagai Keterampilan Sosial Inti
02 February 2026
“Kenapa ga ada yang paham aku?” Pertanyaan ini jarang ditanyakan dengan suara keras. Lebih sering berputar di kepala, muncul setelah berkali-kali mencoba menjelaskan diri lalu merasa tetap sendirian. Bukan karena tidak bicara, tapi karena yang didengar terasa meleset.
Merasa tidak dipahami sering dianggap kelemahan personal. Seolah-olah jika orang lain tidak mengerti, berarti kita kurang jelas, kurang menarik, atau terlalu sensitif. Padahal, memahami dan dipahami adalah proses dua arah. Ia tidak hanya soal seberapa baik kita bicara, tetapi juga seberapa hadir orang lain mendengarkan.
Empati sering disalahartikan sebagai sikap baik hati atau rasa kasihan. Dalam psikologi, empati dipahami sebagai kemampuan memahami perspektif dan pengalaman emosional orang lain, sekaligus meresponsnya secara tepat. Ia adalah keterampilan bukan sekadar niat baik.
Masalahnya, empati tidak selalu tumbuh otomatis. Banyak orang terbiasa mendengar untuk merespons, bukan untuk memahami. Mereka sibuk menyiapkan jawaban, solusi, atau pembelaan diri. Akibatnya, percakapan terasa seperti dua monolog yang saling berpapasan.
Penelitian menunjukkan bahwa empati berkaitan erat dengan kualitas hubungan sosial dan kepuasan relasional. Ketika empati rendah, kesalahpahaman meningkat. Bukan karena orang tidak peduli, tetapi karena mereka tidak terlatih untuk benar-benar hadir.
Menariknya, empati bukan hanya tentang memahami orang lain. Ia juga tentang memberi informasi yang cukup agar bisa dipahami. Banyak dari kita berharap orang lain “mengerti sendiri”, tanpa menyadari bahwa pengalaman batin tidak selalu terbaca dari luar. Di titik ini, empati dan komunikasi bertemu.
Empati sebagai keterampilan sosial inti bekerja dua arah: mendengarkan tanpa menginterupsi, dan berani menjelaskan tanpa menyerang. Kalimat seperti, “Yang aku rasain sebenarnya…” membuka ruang lebih besar daripada berharap orang lain menebak-nebak.
Penelitian di bidang neurosains sosial menunjukkan bahwa empati dapat dipelajari dan diperkuat melalui latihan kesadaran emosi dan perspective-taking. Artinya, empati bukan milik segelintir orang yang “peka”, tetapi kapasitas yang bisa dikembangkan.
Mungkin, rasa tidak dipahami bukan selalu karena orang lain tidak mau mengerti. Kadang, karena empati belum menjadi bahasa bersama. Dan membangun bahasa itu butuh waktu, latihan, dan keberanian untuk hadir di kedua sisi percakapan.
Karena dipahami bukan soal ditemukan oleh orang yang tepat, melainkan tentang bertemu di ruang empati yang cukup aman untuk saling mendengar.
Toko psikologi terpercaya yang menyediakan jurnal psikologi, alat tes psikologi, dan berbagai produk mental health berkualitas untuk kebutuhan pribadi maupun profesional - www.tokopsikologi.com -
Referensi:
Davis, M. H. (1983). Measuring individual differences in empathy: Evidence for a multidimensional approach. Journal of Personality and Social Psychology, 44(1), 113–126. https://doi.org/10.1037/0022-3514.44.1.113
Decety, J., & Cowell, J. M. (2014). The complex relation between morality and empathy. Trends in Cognitive Sciences, 18(7), 337–339. https://doi.org/10.1016/j.tics.2014.04.008